Resusitasi Cairan Operasi (perioperatif)
Terapi cairan resusitasi adalah pemberian bolus cairan melalui akses intra vena atau intra osseus. Terapi cairan ini bertujuan untuk menggantikan kehilangan cairan tubuh. Kehilangan akut cairan tubuh seringkali menyebabkan syok.
Berdasarkan algoritma cairan intravena dewasa dari NICE 2013, langkah pertama adalah melakukan penilaian ABCDE. Jika ditemukan indikasi resusitasi cairan meliputi tekanan darah sistolik <100 mmHg, HR>90 bpm, capillary refill >2 detik atau akral dingin, RR>20x/mnt, NEWS > atau =5, maka pasien harus mendapatkan resusitasi cairan.
Cairan pertama yang diberikan adalah 500ml kristaloid secara bolus dengan kandungan ion natrium 130-154 mmol selama 15 menit hingga maksimal 2000ml. Kemudian dilakukan penilaian ulang terhadap ABCDE pasien setiap 500ml masuk. Jika keadaan syok membaik, maka dapat dilakukan pemberian cairan rumatan dengan jumlah 25-30ml/kgbb/hari.
Terapi cairan perioperatif meliputi penggantian cairan yang hilang dari keadaan defisit cairan yang memang sudah ada di awal dan kehilangan saat operasi, meliputi juga kehilangan darah.
a. Kebutuhan terapi rumatan
Pada dewasa kebutuhan normal cairan rumatan adalah 2ml/kkbb/jam. Sedangkan untuk anak < 10kg 4ml/kgbb/jam, 10 kg berikut ditambah 2ml/kgbb/jam, setiap kg diatas 20 kg ditambah 1ml/kgbb/jam. Contoh anak dengan berat badan 25 kg, kebutuhan cairan rumatan sebanyak 40+20+5= 65ml/jam
b. Kebutuhan cairan pengganti puasa (preexisting defisit)
Pasien dipuasakan hingga semalam sebelum tindakan bedah akan memiliki defisit cairan. Defisit yang ada dapat diestimasi dengan mengalikan tingkat cairan rumatan normal dengan lamanya puasa.
Kehilangan cairan abnormal akan berkontribusi pada defisit preoperatif. Misalnya perdarahan preoperatif, muntah, diuresis dan diare. Kehilangan cairan yang tidak tampak akibat adanya infeksi jaringan atau akibat ascites merupakan hal penting yang harus diperhatikan juga. Demikian juga dengan kehilangan cairan akibat hiperventilasi, demam dan berkeringat.
Secara ideal, defisit yang ada harus digantikan sebelum operasi dilakukan. Penggunaan cairan pengganti harus mirip dengan komposisi cairan yang hilang.
c. Kebutuhan cairan saat operasi
Terapi cairan intra operatif harus meliputi penggantian cairan dasar, penggantian cairan pre operatif dan cairan yang hilang saat intra operatif (kehilangan darah, evaporasi). Cairan intra vena yang dipilih harus menyesuaikan prosedur operasi dan jumlah kehilangan darah yang terjadi. Untuk prosedur minor dengan kehilangan darah minimal, dapat diberikan cairan rumatan. Untuk semua prosedur, ringer laktat umum diberikan bahkan untuk terapi rumatan.
Untuk penggantian kehilangan darah, dapat diganti dengan cairan kristaloid atau cairan koloid untuk mempertahankan volume intravaskuler (normovolemia) sampai ditemukan keadaan anemia yang lebih berresiko daripada resiko tranfusi. Jika sudah sampai keadaan itu, maka kehilangan darah digantikan dengan tranfusi PRC untuk mempertahankan konsentrasi hemoglobin atau hematokrit.
Dalam kondisi konsentrasi Hb <7g/dl, cardiac output meningkat untuk mempertahankan pengedaran oksigen normal. Pada kondisi peningkatan konsentrasi Hb yang ditemukan pada pasien geriatri dan memiliki penyakit paru atau jantung dengan bukti klinis yang ada, pemberian tranfusi akan bermanfaat.
Keadaan dibutuhkan tranfusi dapat ditentukan dari keadaan hematokrit preoperatif dan dari mengestimasi volume darah pasien. Pasien dengan hematokrit normal sebaiknya dilakukan tranfusi jika mengalami kehilangan >10-20% volume darahnya.
Estimasi Blood volume dewasa lk 75 ml/kg, dewasa pr 65 ml/kg, neonatus prematur 95 ml/kg, neonatus full term 85 ml/kg, infants 80 ml/kg.
Untuk penggantian cairan redistributif dan evaporasi terutama berkaitan dengan luka saat operasi dan manipulasi, prosedur jumlah penggantian cairan dapat diklasifikasikan berdasarkan derajat trauma jaringan yang dibagi menjadi minimal 0-2ml/kg, sedang 2-4 ml/kg, berat 4-8 ml/kg.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar