Asuhan Kepenataan Pre Anestesi (bag 2)
1. Pengkajian
Kegiatan yang dilakukan pada pengkajian persiapan pra anestesi:
a) Anamnesis
- Riwayat anestesi dan operasi sebelumnya
- Riwayat penyakit sistemik (diabetes melitus, hipertensi, kardiovaskuler, TB, asma)
- Pemakaian obat tertentu, seperti antidiabetik, antikoagulan, kortikosteroid, anti hipertensi, secara teratur. Dua obat terakhir harus diteruskan selama operasi dan anestesi, sedangkan obat yang lain harus dimodifikasi
- Riwayat diet ( kapan makan apa minum terakhir, jelaskan perlunya puasa sebelum operasi)
- Kebiasaan – kebiasaan pasien ( perokok berat, pemakai alkohol atau obat – obatan)
- Riwayat penyakit keluarga
b) Pemeriksaan fisik
(1) Breathing
- Keadaan jalan nafas, bentuk pipi dan dagu, mulut dan gigi, lidah dan tonsil.
- Apakah jalan nafas mudah tersumbat ?
- Apakah intubasi akan sulit ?
- Apakah pasien ompong atau menggunakan gigi palsu? Atau mempunyai rahang yang kecil yang akan mempersulit intubasi ?
- Apakah ada gangguan mulut, leher pendek atau kekakuan leher ?
- Apakah ada pembengkakan abnormal pada leher yang mendorong saluran nafas bagian atas?
- Kaji frekuensi nafas, tipe nafas apakah cuping hidung, abdominal atau torakal. Apakah terdapat nafas denagn bantuan otot pernapasan (retraksi kosta)
- Kaji keberadaan ronkhi, wheezing, dan suara nafas tambahan (stridor)
(2) Blood
Tekanan nadi, pengisian nadi, tekanan darah, perfusi perifer. Nilai keadaan syok atau pendarahan. Lakukan pemeriksaan jantung.
(3) Brain
Analisis GCS (Glaslow Coma Scale) adakah kelumpuhan saraf atau kelainan neurologist dan tanda tanda peningkatan Tekanan Intra Kranial.
(4) Bladder
Produksi urin dan pemeriksaan faal ginjal
(5) Bowel
Pembesaran hepar, bising usus dan peristaltik usus, cairan bebas dalam perut atau massa abdominal.
(6) Bone
Kaku kuduk atau patah tulang. Periksa bentuk leher atau tubuh, dan kelainan tulang belakang.
c) Menetapkan status fisik pasien
Menetapkan status fisik pasien dengan menggunakan kriteria ASA
d) Menetapkan penilaian penampakan faring
Menetapkan penilaian penampakan faring dengan menggunakan kriteria Mallampati
e) Pemeriksaan laboraturium dan radiologi
Berkolaboratif dengan dokter spesialis anestesi untuk mengecek kembali dan menindaklanjuti pemeriksaan laboratium dan radiologi, antara lain:
- Pemeriksaan standar yaitu darah rutin (kadar hemoglobin, leukosit, bleeding time, clothing time, atau APTT dan PPT)
- Pemeriksaan kadar gula darah puasa
- Liver function test
- Renal function test
- Pemeriksaan foto toraks
- Pemeriksaan pelengkap atas indikasi seperti gula darah 2 jam post prandial, pemeriksaan EKG untuk pasien lebih dari 40 tahun
- Pada operasi besar dan mungkin bermasalah periksa pula kadar albumin, globulin, elektrolit darah, CT scan faal paru, dan faal hemostatis.
2. Masalah kesehatan
a) Cemas
b) Koping individu tidak efektif
c) Kurang pengetahuan tentang tindakan pembedahan dan anestesi
3. Intervensi dan Implementasi
Secara umum intervensi dan implementasi yang dilakukan pada pasien pra anestesi, antara lain
a) Bantu pasien mengekspresikan perasaan untuk mengatasi kecemasan
b) Berikan obat anti cemas sesuai program terapi kolaboratif dari dokter spesialis anestesi, contohnya diazepam
c) Berikan dukungan pada pasien untuk dapat beradaptasi terhadap perubahan dan pengertian tentang peran pasien pada post pembedahan dan anestesi
d) Jelaskan tentang prosedur pembedahan sesuai dengan pembedahan dan prosedur anestesi
4. Evaluasi
Evaluasi tindakan asuhan kepenataan anestesi pre anestesi, mengevaluasi secara mandiri atau kolaboratif
a) Pasien tampak tenang dan tidak gelisah
b) Pasien tampak asertif
c) Pasien memahami tentang prosedur pembedahan dan anestesi
5. Pendokumentasian
Mendokumentasikan hasil anamnesis / pengkajian sampai dengan evaluasi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar