Senin, 23 November 2020

Obat Anestesi Umum (General Anestesi)

 

Obat Anestesi Umum (General Anestesi)

Anestesi artinya adalah pembiusan, berasal dari bahasa Yunani an artinya tidak atau tanpa, aesthetos artinya persepsi atau kemampuan untuk merasa. Secara umum anestesi adalah suatu tindakan menghilangkan rasa sakit ketika melakukan pembedahan dan berbagai prosedur lainnya yang menimbulkan rasa sakit pada tubuh. Istilah anestesi dikemukakan pertama kali oleh O.W. Holmes, yang artinya tidak ada rasa sakit.  Anestesi harus memenuhi 3 kriteria yang disebut trias anestesi antara lain, analgesia (hilang rasa nyeri), hipnosis (hilang kesadaran) dan relaksasi.

A.    Jenis Anestesi

1.      Anestesi Umum

Anestesi umum adalah obat yang dapat menimbulkan suatu keadaan depresi umum di sistem syaraf pusat yang bersifat reversible, dimana seluruh perasaan dan kesadaran ditiadakan sehingga lebih mirip dengan keadaan pingsan. Obat anestesi ini berupa kombinasi antara analgetik, hipnosis dan relaksan otot.

Menurut bentuk fisiknya, obat anestesi umum terdiri dari tiga golongan, yaitu obat anestesi inhalasi (gas), obat anestesi uap dan obat anestesi intra vena.

a.       Obat anestesi Inhalasi (gas)

Dinitrogen Monoksida (N2O) atau gas tertawa merupakan gas yang tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa dan lebih berat dari udara. N2O biasanya tersimpan dalam bentuk cairan bertekanan tinggi dalam tabung baja, tekanan penguapan pada suhu kamar kurang lebih 50 atmosfir. N2O memiliki efek analgesik yang baik, dengan inhalasi 20% N2O dalam oksigen efeknya seperti efek 15 mg morpin. Kadar optimum untuk mendapatkan efek analgesik maksimum kurang lebih 35 %.

b.      Obat anestesi uap

Volatile Anesthetic (obat anestesi uap) mempunyai tiga sifat dasar yang sama yaitu berbentuk cairan pada suhu kamar, mempunyai sifat anestesi yang kuat pada kadar rendah dan relatif mudah larut dalam lemak, darah dan jaringan. Untuk mempercepat induksi, dapat diberikan obat anestesi lain yang kerjanya cepat kemudian baru diberikan anestesi yang menguap.

Contoh Obat Anestesi Uap:

1)      Isoflurane

Obat ini dipakai dalam anestesi sejak tahun 1981, merupakan cairan tidak berwarna dan berbau tajam. Menimbulkan iritasi jalan nafas, jika dipakai dalam konsentrasi tinggi dan diberikan melalui sungkup muka (face mask). Tidak mudah terbakar, tidak terpengaruh cahaya dan tidak merusak logam. Pada sistem kardiovaskular, obat ini bisa menimbulkan depresi ringan pada jantung, curah jantung dipertahankan dengan meningkatnya frekuensi denyut jantung. Minimal Alveolar Consetration (MAC) isoflurane pada usia 20-30 tahun adalah 1,28. Usia 30-55 tahun 1,15. Usia lebih dari 55 tahun 1,05.

2)      Sevoflurane

Merupakan cairan jernih, tidak berwarna, berbau enak, tidak iritatif, tidak korosif terhadap stainless steel, kuningan maupun aluminium, tidak mudah terbakar, tidak ekssplosif, stabil terkena cahaya. MAC 1,7 nyaman untuk induksi. Pada sistem kardiovaskular, menimbulkan depresi ringan kontraksi otot jantung, terjadi penurunan tekanan vaskuler sistemik dan tekanan arteri yang ringan. Pada sistem respirasi, menimbulkan depresi respirasi dan dapat memicu terjadi bronkhospasme. Induksi dengan sevoflurane menimbulkan relaksasi yang memungkinkan intubasi pada anak, obat ini juga berpotensiasi dengan pelumpuh otot. Aliran darah ginjal sedikit mengalami penurunan, hasil metabolisme dihubungkan dengan fungsi pada tubulus ginjal.

c.       Obat anestesi intra vena

1)      Pre Medikasi

a)      Diazepam

Merupakan obat golongan benzodiazepin, merupakan obat yang tidak larut dalam air, menimbulkan nyeri di tempat suntikan, dimetabolisme dalam hati, diekskresikan melalui urin. Kombinasi dengan analgetik narkotik biasanya menimbulkan depresi kardiovaskuler berat. Pemberian intravena bisa mengakibatkan depresi pernafasan.

Dosis :

-          Premedikasi     : 10 mg dewasa (im)

: 0,1-0,2 mg/kgBB pada anak (im)

-          Induksi            : 0,2-0,6 mg/kgBB (iv)

-          Anti kejang     : 10-20 mg (iv)

 

b)      Midazolam

Merupakan obat golongan benzodiazepin, merupakan obat yang larut dan stabil dalam air, tidak menimbulkan nyeri di tempat suntikan, mempunyai sifat anxiolitik, sedatif, anti konvulsif dan anteretrograde amnesia.

Mekanisme dan efek kerja sama dengan diazepam, tapi onsetnya lebih cepat, durasi kerja lebih singkat dan kekuatannya 1,5-3x diazepam. Metabolisme terjadi di dalam hepar.

Dosis         :

-          Premedikasi     : 0,07-0,1 mg/kgBB

-          Induksi            : 0,1-0,4 mg/kgBB

 

2)      Analgetik Narkotik (morphin, pethidin, fentanyl)

Fentanil

Merupakan opioid agonis turunan fenil piperidin. Potensi analgesinya antara 75-125 x lebih kuat dibandingkan morphin. Pada balance anestesi, fentanyl diberikan dengan loading dose (bolus) 2-8 mikrogram. Fentanyl dimetabolisme di hati, diekskresikan melalui empedu dan urin. Fentanyl mempunyai efek depresi nafas, perlambatan EKG, miosis, mual dan muntah. Juga dapat mengakibatkan kekakuan otot rangka khususnya otot thorax, abdomen dan ekstrimitas terutama pada pemberian intra vena secara cepat.

Dosis lazim dari fentanyl adalah 1-3 mikrogram/kbBB

 

3)      Hipnosis

Propofol

Obat ini merupakan cairan emulsi isotonik yang berwarna putih. Emulsi ini antara lain terdiri dari glicerol, phospatid dari telur, sodium hiroksida, minyak kedelai dan air. Propofol mempunyai sifat sangat larut dalam lemak, dengan cepat didistribusikan ke dalam jaringan dan dengan mudah di metabolisme dalam hati selanjutnya akan tereliminasi melalui urin. Obat ini menimbulkan rasa nyeri di tempat penyuntikan, hal ini dapat diminimalisir melalui penyuntikan yang tidak terlalu cepat, dilakukan di pembuluh vena yang besar  atau bila diperlukan menggunakan anastesi lokal.

Dosis induksi 2-2,5 mg/kgBB, dengan onset 30-60 detik. Bila sudah dibuka, hendaknya segera dipakai, karena emulsi propofol merupakan media yang baik untuk berkembangnya bakteri dan tidak dilindungi dengan anti mikroorganisme.

 

4)      Ketamine

Merupakan kristal putih yang larut dalam air, mempunyai efek sedasi ringan, tetapi memiliki sifat analgesi yang kuat. Ketamin mempengaruhi sistem syaraf pusat, sehingga menimbulkan anestesi disosiasi, yang diinterpetasikan berbeda oleh pasien. Meningkatkan aliran darah ke otak sehingga mengakibatkan tekanan intra kranial yang tinggi, mempercapat kejang pada pasien epilepsi.

Pada sistem kardiovaskuler, ketamin meningkatkan tekanan darah, laju jantung dan curah jantung. Atas dasar pengaruh ini, ketamin menjadi alternatif pilihan obat induksi pasien syok

 

5)      Muscle Relaxant

Berdasarkan cara kerjanya, muscle relaxant dibagi menjadi 2 golongan

a)      Golongan depolarizing : succinyl cholin

b)      Golongan non depolarizing: atracurium, rocuronium, vecuronium

Berdasarkan lama kerja (duration of action) dibagi menjadi 4 golongan

a)      Ultra short acting  : succinyl choline

b)      Short acting           : mivacurium

c)      Intermediet action : atracurium, rocuronium, vecuronium

d)     Long acting           : pancuronium

 

Roculax :

Merupakan obat pelumpuh otot golongan non depolarisasi turunan aminosteroid. Onset cepat, dengan dosis 0,6 mg/kgBB dalam waktu 1 menit sudah dapat dilakukan intubasi dengan baik dan mulus, tetapi paralise otot yang adekuat untuk berbagai macam operasi baru dicapai dalam waktu 2 menit.

Rocuronium tidak merangsang pelepasan histamin, sedikit menimbulkan perubahan cardiovaskuler. Obat dieliminasi di hepar, sebagian kecil di ginjal. Karena itu, efek akan memanjang jika diberikan pada pasien penyakit hepar.

 

Atracurium

 Merupakan obat pelumpuh otot non depolarisasi, metabolisme terjadi dalam darah melalui reaksi kimia yang dikenal sebagai eliminasi Hoffman dan hidrolisisester non spesifik, sehingga tidak tergantung pada fungsi hati dan ginjal.

Dosis intubasi 0,5-0,6 mg/kgBB dengan onset 2-3 menit

 

Vecuronium

Merupakan homolog pancuronium, dengan masa kerja yang singkat. Tidak mempunyai efek akumulasi jika diberikan berulang, tidak menyebabkan perubahan kardiovaskuler dan tidak menyebabkan pelepasan histamin. Pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal, akan terjadi akumulasi hasil metabolit sehingga menyebabkan terjadinya blokade neuromuskuler yang memanjang.

Dosis intubasi 0,1-0,2 mg/kgBB, dengan onset 1,5-3 menit.

 

6)      Anti kolin esterase (reverse muscle relaxant)

Prostigmin / neostigmin

Dalam anestesi, obat ini merupakan obat untuk me-reverse penderita yang mendapat pelumpuh otot non depolarisasi melalui mekanisme kerja dengan cara menghambat kerja kolin esterase, sehingga hidrolisa asetil choline dihambat yang pada akhirnya jumlah acetil cholin meningkat. Memiliki efek muskarinik terhadap otot polos mengakibatkan vasodilatasi pembuluh darah perifer, bradikardi dan efek terhadap kelenjar, sehingga mengakibatkan peningkatan sekresi kelenjar eksokrin seperti kelenjar keringat, air mata dan juga bronkus yang dapat merugikan sehingga harus dinetralisir. Obat yang dapat menetralisir efek muskarinik yang ditimbulkan oleh neostigmin atau prostigmin adalah obat antikolinergik (parasimpatolitik) yaitu sulfas atropin, dengan pedoman:

-          Bila denyut nadi kurang dari 100x / menit, penderita diberi sulfas atropin dulu sampai nadi meningkat menjadi 100/menit kemudian diberi prostigmin / neostigmin

-          Bila denyut nadi lebih dari 100 x / menit, sulfas atropin dan prostigmin / neostigmindicampur dalam satu spuit.

-          Dosis sulfas atropin adalah 0,06 mg/kgBB

7)      Nalokson

Merupakan obat antagonist opiat semi sintetis, yang disintese dari thebain, salah satu derifat narkotik. Obat ini dipergunakan untuk terapi depresi ventilasi pasca anestesi akibat agonist opioid, juga dapat diberikan pada neonatus akibat ibunya over dosis dan ketergantungan narkotik.

Dosis awal 0,1-0,2 mg intra vena.

Hal yang perlu diperhatikan dari penggunaan nalokson adalah seiring dengan kembalinya fungsi pernafasan efek analgesik dari opioid juga berkurang, sehingga timbul persepsi nyeri yang tiba tiba.

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jurnal Keperawatan Anestesi Internasional

  INTERNATIONAL STUDENT JOURNAL OF NURSE ANESTHESIA Vol. 16 No. 1 SPRING 2017 Editor Vicki C. Coopmans, CRNA, PhD Associate Edit...