INDUKSI ANESTESI
Induksi anestesi adalah suatu rangkaian proses tidakan untuk membuat pasien dari sadar menjadi tidak sadar sehingga memungkinkan dimulainya anestesi dan pembedahan. Obat induksi bisa diberikan melalui intravena, intramuscular, inhalasi, dan rectal.
Waktu induksi adalah waktu antara obat anestesi diinjeksikan sampai keadaan tidak refleks atau sudah tidak merasakan sakit (stadium operasi). Waktu minimum periode induksi biasanya 10 menit apabila diberikan secara intramuskular (IM) dan sekitar 20 menit apabila diberikan secara subcutan.
Tanda induksi
1. Gerakan tidak terkoordinasi
2. Gelisah dan diikuti dengan relaksasi dengan cepat serta kehilangan kesadaran
A. Oksigenasi Pre Induksi
1. Pengertian
Oksigenisasi pre induksi adalah pemberian oksigen untuk mengoptimalisasikan oksigenasi jaringan sebelum diberikan obat induksi anestesi
2. Tujuan
a. Mengoptimalkan hemodinamik paru
b. Mempertahankan oksigenasi jaringan yang adekuat sehingga metabolisme intra selular berjalan lancar
3. Persiapan alat:
a. Sumber oksigen yang siap pakai
b. Humidifier ( tabung pelembab )
c. Flow meter ( pengukur aliran oksigen )
d. Alat pemberi oksigen tergantung metode yang dipakai.
4. Efek samping pemberian oksigen.
a. Terjadinya resiko kebakaran akibat ledakan tangki oksigen.
b. Hipoventilasi, akibat supresi pada hipoxic respiratory drive pada pasien dengan hiperkapnia kronik ( PaCO2 > 45 mmHg ), maka respon terhadap peningkatan kadar CO2 menjadi berkurang sehngga tidak ada rangsangan pada pusat nafas.
c. Hipoksia, oksigen diberikan dengan tekanan tinggi secara mendadak.
d. Atelektasis, alveoli paru menjadi kolaps, terjadi oleh karena pengeluaran nitrogen dari alveoli akibat pemberian oksigen konsentrasi tinggi hampir 100% dalam waktu yang lama ( >24 jam ) sehingga gas nitrogen biasanya meregangkan dinding alveoli.
e. Keracunan oksigen : Bisa menyeluruh dan bisa setempat. Pemberian oksigen bertekanan tinggi pada jaringan paru bisa menyebabkan perubahan jaringan menjadi patologis. Secara umum, FiO2 > 0,5 menyebabkan keracunan. Tanda pertama keracunan oksigen adalah akibat efek iritasi oksigen dan refleks trakeobronkitis akut. Setelah beberapa jam bernapas dengan oksigen 100%, fungsi mukosiliar akan tertekan dan terjadi gangguan pembersihan mukus. Dalam 6 jam pemberian oksigen 100%, bisa terjadi batuk nonproduktif, nyeri substrenal, dan hidung tersumbat. Bisa juga terjadi malaise, mual, anoreksia, dan nyeri kepala.
f. Retrolental fibroplasias, pemberian sejumlah besar oksigen pada bayi prematur menyebabkan konstriksi pembuluh darah retina yang masih prematur, kerusakan sel endotel, terlepasnya retina, dan kemungkinan kebutaaan.
B. Pemberian Obat Induksi
1. Pengertian obat induksi anestesi merupakan pemberian obat anestesi hipnosis secara cepat sehingga mencapai puncak konsentrasi dalam waktu 30 – 60 detik mengakibatkan perubahan tingkat penekanan susunan saraf pusat dan cepat turun karena proses redistribusi dari obat.
2. Metode Induksi Anestesi
a. Induksi intravena
1) Induksi intravena paling banyak dikerjakan dan digemari apalagi sudah terpasang jalur vena, karena cepat dan menyenangkan.
2) Induksi intravena hendaknya dikerjakan dengan hati-hati, perlahan-lahan, lembut, dan terkendali.
3) Obat induksi bolus disuntikan dalam kecepatan antara 30-60 detik.
4) Selama induksi anestesi, pernapasan pasien, nadi dan tekanan darah harus diawasi dan selalu diberikan oksigen.
5) Induksi cara ini dikerjakan pada pasien yang kooperatif.
6) Anestesi intravena selain untuk induksi juga dapat digunakan untuk rumatan anesthesia tambahan pada analgesia regional atau untuk membantu prosedur diagnostic.
7) Obat yang biasanya digunakan adalah :
a) Tiopental dosis induksi 3-7 mg/kg disuntikan perlahan dihabiskan 30-60 detik.
b) Propofol dosis bolus induksi 2-2,5 mg/kg.
c) Ketamin untuk induksi intravena 1-2 mg/kg dan untuk intramuscular 3-10 mg/kg.
d) Opioid ( fentanil ) dosis induksi 20-50 mg/kg.
b. Induksi Intramuscular
Sampai sekarang hanya ketamin ( ketalar ) yang dapat diberikan secara intramuscular dengan dosis 5-7 mg/kgBB dan setelah 3-5 menit pasien tidur.
c. Induksi Inhalasi
Obat yang digunakan untuk induksi inhalasi adalah obat-obat yang memiliki sifat-sifat :
1) Tidak berbau menyengat/merangsang
2) Baunya enak
3) Cepat membuat pasien tidur
Sifat- sifat obat tersebut dapat ditemukan pada halotan dan sevofluran. Cara induksi ini dikerjakan pada bayi atau anak-anak yang belum terpasang jalur vena atau pada orang dewasa yang takut dengan jarum suntik. Dosis awal pemberian halotan dimulai dari 0,5 vol% sampai konsentrasi yang dibutuhkan. Jika pasien batuk, konsentrasi halotan diturunkan untuk kemudian dinaikan lagi sampai konsentrasi yang diperlukan kalau pasien sudah tenang.
3. Cara menilai induksi anestesi
Tanda tanda induksi berhasil adalah hilangnya refleks bulu mata jika bulu mata disentuh, tidak ada gerakan pada kelopak mata.
C. Evaluasi paska pemberian obat induksi
1. Pengertian
Evaluasi atau penilaian merupakan kegiatan dalam melaksanakan rencana tindakan yang telah ditentukan, untuk mengetahui hasil dari proses selama tindakan induksi anestesi
2. Tujuan
a. Menyatakan apakah tujuan tindakan insduksi telah tercapai atau belum
b. Untuk memilih efektifitas, efesiensi dan produktifitas tindakan induksi anestesi yang diberikan
c. Meneruskan dan memodifikasi rencana tindakan
3. Kriteria
a. Kriteria proses ( evaluasi proses ) : menilai jalannya pelaksanaan proses anestesi sesuai dengan situasi, kondisi dan kebutuhan pasien. Evaluasi proses harus dilaksanakan segera setelah perencanaan tindakan anestesi dilaksanakan untuk membantu keefektifan terhadaap tindakan .
b. Kriteria keberhasilan ( evaluasi hasil/ sumatif ) : menilai hasil asuhan kepenataan anestesi yang diperlihatkan dengan perubahan tingkah laku pasien. Evaluasi ini dilaksanakan pada akhir tindakan anestesi secara paripurna
4. Langkah Evaluasi
a. Menentukan kriteria, standar dan pertanyaan evaluasi
b. Mengumpulkan data baru tentang klien
c. Membandingkan data baru dengan standar yang berlaku
d. Merangkum hasil dan membuat kesimpulan
e. Melaksanakan tindakan yang sesuai berdasarkan kesimpulan
5. Mengukur pencapaian tujuan
a. Observasi secara langsung
b. Perubahan fungsi tubuh dan gejala
6. Hasil evaluasi
a. Tujuan tercapai : jika pasien menunjukan perubahan sesuai dengan yang telah ditetapkan
b. Tujuan tidak tercapai : jika pasien tidak menunjukan perubahan dan kemajuan sama sekali dan bahkan timbul masalah baru
c. Cara penilaian keberhasilan induksi anestesi
Tanda-tanda induksi berhasil adalah hilangnya refleks bulu mata, jika bulu mata disentuh, tidak ada gerakan pada kelopak mata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar